Tampilkan postingan dengan label kutipan dan resensi buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kutipan dan resensi buku. Tampilkan semua postingan

Menggali Makna "Kebahagiaan"

Setelah lama hibernasi dari dunia blog-blog an, akhirnya 'penyakit' untuk belajar menulis kambuh kembali. hehe.. Hal yang selalu menghantui saya untuk saat-saat ini adalah tentang tugas akhir sebagai mahasiswa atau biasa disapa oleh mahasiswa-mahasiswa dengan script sweet atau pada titik ekstrimnya dipanggil dengan skripshit. hehe.. Namun kita tidak akan menggali lebih jauh mengenai itu.....

"Kebahagiaan" adalah tujuan semua manusia. Bisa dipastikan bahwa "bahagia" lah yang dicari oleh semua orang. Bagi saya, bahagia adalah ketika bertemu dengan orang tua (maklum, saya orang 'kampung' yang telah lama berpisah dari orang tua). Makanya 'pulang kampung' adalah momen yang selalu saya tunggu-tunggu. Hal lain yang membuat saya bahagia adalah ketika mata kuliah saya dapat A atau saat pembimbing saya meng acc skripsi saya (tentu, karena status saya sebagai ' mahasiswa'). Makanya kebahagiaan bagi sebahagian orang yang berstatus mahasiswa adalah ketika mendapat nilai tinggi. Bagi sopir angkutan, banyak penumpang adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Berbeda lagi untuk "maaf" pengemis, kebahagiaannya terletak pada saat ada orang yang iba kepadanya dengan sedikit berbagi rejeki kepadanya. Akil Muchtar (ex ketua MK periode 3) misalnya bahagia ketika menerima suap dari kliennya misalnya. Seorang anak bahagia ketika ibunya membelikan mainan untuknya dan masih banyak contoh lain. Lantas, apakah 'kebahagiaan' itu relatif atau mutlak? Faktanya, tiap orang berbeda letak kebahagiaannya masing-masing. Ataukah itu hanya 'kesenangan' bukan 'kebahagiaan'? Atau bisa jadi ini hanya masalah konsepsi yang dimiliki oleh tiap orang? ahhhhh.. Pangkal dan ujung-ujung-ujung nya selalu saja pada pengetahuan.

Ingat!!! Kita hidup di dunia yang sudah ribuah kali lebih maju dari jaman dulukala. Dengan segala kompleksitas modern saat ini, kebahagiaan hadir dengan bentuk dan wajah yang beragam. Tidak sedikit mereka yang bergelimangan harta dan jabatan justru kehilangan makna kebahagiaan yang sedang dicari. Ternyata harta dan jabatan bukanlah sumber kebahagiaan, tetapi kerap kali menjadi sumber malapetaka yang menumpahkan darah dan nyawa. Sejarah umat manusia telah mengabarkan kepada khalayak kita bahwa prestise sosial yang begitu dibanggakan manusia dengan harta dan jabatannnya seringkali berakhir dengan berbagai tragedi mengenaskan. Kuasa harta dan jabatan membungkan nurani kemanusiaan, sehingga kebahagiaan yang ingin dicapai justru sirna.

Ditengah hiruk-pikuk kebingungan ini, Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat) hadir mengumandangkan tafsir kebahagiaan di tengah kesulitan hidup manusia dalam menggapainya. Tafsir kebahagiaan yang diurai oleh beliau mencoba menggali kebahagiaan dari sumbernya yang sejati, bukan dari aksesori kehidupan yang artifisial (tiruan atau buatan) dan gamang. Dengan kembali kepada sumber asalnya, kebahagiaan bisa diraih dengan penuh keyakinan yang teguh, bukan dengan kegembiraan sesaat yang melenakan dan memabukkan seperti candu. Aksesori kehidupan yang kerap dilalui manusia untuk mengais kebahagiaan seringkali hanya menampakkan kebahagiaan dengan wajahnya yang luar, dan penuh citra, sehingga yang lahir adalah kebahagiaan sementara, semu dan palsu. Tafsir kebahagiaan yang dikumandangkan Kang Jalal adalah tafsir yang kembali dalam ajaran agama. Ingatkah kita bahwa setiap hari, paling tidak sepuluh kali, muadzin (tukang adzan) di seluruh dunia Islam meneriakkan hayya ala al-falah, atau marilah meraih kebahagiaan? Seperti para muazin, buku ini mengajak kita menjadikan Al-Quran sebagai penuntun hidup bahagia dan sukses dunia-akhirat. Nasehat yang disuguhkan Al-Quran benar-benar indah dan menarik. Ambil contoh, halilintar dapat menimbulkan ketakutan dan bisa pula melahirkan harapan. Musibah dan bencana bisa menumbuhkan kearifan, bisa pula melahirkan keputusasaan. Kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran bisa menjadi sumber bahagia. Pun bisa menjadi biang kerok penderitaan. Semua tergantung pada cara kita memandang dan menghadapi kenyataan hidup. Ya, sesungguhnya hidup hanya soal sudut pandang dan sudut pandang bertumpu pada pengetahuan yang kita miliki. Jadi lagi-lagi ini soal pengetahuan, satu objek tentu berbeda untuk beberapa orang.

Hasil kontemplasi Kang Jalal yang dituangkan dalam bentuk buku ini menggali inspirasi dari ayat-ayat suci tentang bagaimana kita menyikapi keadaan yang kita hadapi dan disertai ulasan dari hadis Nabi dan kisah-kisah menghibur, plus penemuan-penemuan mutakhir sains. Hasil pemikiran beliau membantu kita menempatkan diri dalam sudut yang tepat agar realitas yang kita hadapi bisa memberikan harapan dan kebahagiaan. Sisi hukum dan teologis Al-Quran sudah banyak dikupas, tapi sisi psikologis Al-Quran masih jarang diulas. Catatan-catatan ringan yang diuraikan Kang Jalal secara psikologis ini hadir dengan sangat cair dan renyah, sehingga memudahkan kita memahami seluk-beluk kebahagiaan yang begitu rumit kita pahami dengan sangat mudah dan nyaman kita jelajahi. Beliau tidak menjustifikasi kebahagiaan dengan status hukum halal dan haram, melainkan dengan pendekatan psikologi yang memungkinkan kita bisa hadir dalam berbagai percakapan teologis yang diramu dalam berbagai kisah para Nabi dan guru bijak kemanusiaan. Yah... kalau semua orang sudah bijak, sepertinya tidak akan ada lagi masalah. hehehe

Buku ini hadir untuk menyapa manusia modern yang sibuk dengan rutinitasnya yang mekanistik. Tafsir yang membuka “jembatan emas” bagi pembaca dalam mengarungi samudra kebahagiaan yang tiada tepinya: kebahagiaan yang lahir dari samudera ilahi. Kebahagiaan demikian inilah sebenarnya yang menjadi kegelisahan berbagai komunitas modern yang terus menggali dan mencari sumber kebahagiaan tanpa henti. Buku ini tidak menggurui kita untuk menemukan kebahagiaan kita, tetapi menjadi teman berbincang dan bercakap yang asyik untuk membuka mata batin hati kita dalam menerangi jejak hidup ini. Mari bersama-sama membuka mata batin yang senantiasa selalu bijaksana.

Jadi, mari luangkan sedikit saja waktu kita untuk bercengkrama dengan buku tulisan beliau. Setidaknya, itu bisa menjawab sedikit kegelisahan-kegelisahan Anda sebagai manusia yang hidup di jaman edan ini jaman dimana hegemoni kapitalistik semakin menjadi-jadi. Itupun kalau anda gelisah!!! Kalo tidak, tak apalah. hehehe
 
sumber gambar: om google
 

KERINDUAN

Hari ini engkau lahir, empat belas abad yang lalu.
  Penuh senyum, penuh harum. 
Wangimu tercium waktu.

Engkau pun melangkah, hiasi sepimu dengan kerja, dalam cinta. 
Engkau pun temani zaman, mengulur tangan kebenaran, dalam setia. 
Menuntun manusia dengan kearifan, dalam percaya. 
Memapah manusia ke rumah bahagia, dalam makna. 
Ruang pun tertunduk penuh sahaja.

Aku tersentak. 
Ketika engkau, mainkan melodi seruling, earisi kapak Ibrahim. 
Tancapkan semangat suci, tegakkan tongkat Musa. 
Sembuhkan duka zaman, alirkan kasih Isa.  
Laa ilaaha illa Allah
Aku iman kepadamu. 
Ketika engkau sampai ke langit, engkau pun turun kembali ke bumi. 
Sujudmu bertilam kemanusiaan.  
As-salaamu’alaika ya Nabiyallah.

Oo Muhammad yang mulia. 
Aku tak pantas walau menyebut namamu, terlalu canggih khianatku padamu. 
Terlalu liar bisa ular keluar. 
Terlalu rinci perilaku babi meniti, terlalu sering anjing bergunjing. 
Entah harus kuapakan diri ini. 
Aku kebingungan di belantara peradaban, tiap detik adalah dosa. 
Aku kehilangan araha rimba kehidupan, tiap menit adalah nista. 
Aku terasing di rumahku sendiri, terlalu asyik dengan kemilau dunia.

Yang pasti, hanya kepadamu aku mengadu. 
Semoga tanganmu yang suciberkenan mengelus kepalaku. 
Doamu yang kumau, restumu harapan kalbu. 
Sanggupkan aku untuk menggapaimu. 
Izinkan aku untuk selalu merindu. 
Aku rindu marahmu, aku mau tamparanmu, aku mau diludahimu. 
Apa pun darimu adalah wahyu.

Ya Rasulullah, aku ingin bertemu, walau sekejap berlalu. 
Sampai kapanpun kutunggu, sampai kapan pun kurindu. 
Wajahmu, senyummu, syafa’atmu. 
Penuh salam sejahtera untukmu dan keluargamu…

TAPAK SABDA - Sebuah Novel Filsafat - by Fauz Noor

"Kau Ini Bagaimana?" atau "Aku Harus Bagaimana?"

kau ini bagaimana? kau bilang aku merdeka, kau memilihkan segalanya.  kau suruh aku berfikir, aku berfikir kau tuduh aku kafir.....

aku harus bagaimana? kau bilang bergerak, aku bergerak kau curigai. kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai.....

kau ini bagaimana? kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku. kau suruh aku toleran, aku toleran kau tuduh aku plin-plan.....

aku harus bagaimana? aku kau suruh maju, aku maju kau selimpung kakiku. kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku.....

kau ini bagaimana? kau suruh aku takwa, khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa. kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya.....

aku harus bagaimana? aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya. aku kau suruh berisiplin, kau menyontohkan yang lain.....

kau ini bagaimana? kau bilang tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat. kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai.....

aku harus bagaimana? aku kau suruh membangun, aku aku membangun kau merusakkannya. aku kau suruh menabung, aku menabung engkau menghabiskannya.....

kau ini bagaimana? kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah. kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah.....

aku harus bagaimana? aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi. aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap "wallahu'alam bisshawab".....

kau ini bagaimana? kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku. kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku.....

aku harus bagaimana? aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau sendiri bertindak semaumu. kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu.....

kau ini bagaimana? kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku cerewet. kau bilang aku jangan bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis.....

aku harus bagaimana? kau bilang kritiklah, aku kritik aku marah. kau bilang carikan alternatif, aku kasi alternatif kau bilang jangan hanya mendikte saja.....

kau ini bagaimana? aku bilang terserah kau, kau tidak mau. aku bilang terserah kita, kau tak suka. aku bilang terserah aku, kau memakiku....

kau ini bagaimana? atau aku harus bagaimana?.....
--------
Mohammad Yasser-Terbang Bersama Cinta (The Holy Book of Love)

TUHAN MENGUTUK DENGAN CINTA

Tuhan adalah cinta. Tapi cinta bukan Tuhan!

Tuhan adalah cinta murni. hanya cinta yang bisa melahirkan kehidupan. lewat cinta Tuhan lah semesta lahir. 
sampul buku

tak mungkin ada secuil pun kebencian dalam diri Tuhan. kebencian lahir akibat ketidaksempurnaan. sedang Tuhan adalah kesempurnaan itu sendiri.

jadi biarkan Tuhan mengutuk suatu bangsa. atau suatu kaum. atau individu tertentu. itu hak mutlak Tuhan. manusia tidak berhak turut mengutuk!

karena Tuhan mengutuk dengan dasar cinta. akan halnya manusia selalu mengutuk berdasarkan kebencian!

kutukan tuhan membawa kepada kebaikan. sedang kutukan manusia membawa kepada kehancuran!

-Mohammad Yasser "the Holy Book of Love, secercah harapan untuk jiwa yang diselimuti kegalauan"-

Manusia Keparat

orang bilang Muhammad itu manusia paling sempurna,
saya jawab Muhammad cuma manusia biasa;
orang bilang Al-Qur'an itu sakti mandraguna,
saya bilang Al-Qur'an itu benda mati;

orang bilang Malaikat itu makhluk yang paling suci,
buat Saya benang pemisah antara malaikat dan kotoran
hanyalah seuntai benang tipis.
orang bilang Saya keparat,
kali ini saya setuju.

tapi karena Muhammad adalah manusia biasa, maka ia akan selalu menjadi teladan yang nyata bagi saya.; karena Al-Qur'an adalah benda mati, maka ia akan selalu ada ketika saya membutuhkannya; karena benang pemisah antara malaikat dan kotoran ternyata begitu tipis, maka saya bisa melihat malaikat dimana-mana; karena saya adalah seorang keparat, maka saya begitu rindu untuk menjadi mulia.

-Mohammad Yasser "Mendobrak Pintu Langit"-

Kecewa Karena Cinta

sampul buku
bukankah sudah ku katakan kalau batu itu keras dan air itu lunak
dan kau memilih menjadi batu yang keras dan kokoh
sedang aku adalah kaca tempat bercermin dan tercermin

ketika kuserang kau, aku hancur berkeping-keping
ketika air menetes, kau hilang terkikis

dan kini...
ketika tiba ir terjun
kau termenung lama..

bukankah sudah kukatakan kalau kau adalah manusia,
dan manusia bukan batu.

-buku "mendobrak pintu langit" tulisan Mohammad Yasser-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...