"Biarkan Nasionalisme Keindonesiaan Punah"

Menurut saya, nasionalisme itu penting dan mempunyai banyak fungsi. Pertama, misalnya, sebagai ideologi pemersatu untuk melawan penjajah Belanda, atau Jepang. Dulu, kalau orang-orang di kepulauan Nusantara ini tersebar terus, tidak ada ideologi yang mempersatukan dengan mudah Belanda menguasai. Sangat mungkin orang-orang di kepulauan Nusantara justru saling berperang sendiri. Apalagi, ketika politik adu domba Belanda terus menerus memompakan permusuhan dan konflik-konflik.
Kedua, sebagai konsekuensinya, ketika orang-orang di kepulauan Nusantara tadi berhasil memerdekakan dirinya, nasionalisme paling tidak sebagai wacana ideologis untuk membangkitkan semangat mengisi kemerdekaan. Tak pelak, itu pun kadang-kadang disalahgunakan. Dengan alasan nasionalisme Indonesia kita menjadi bermusuhan dengan Malaysia, misalnya. Tapi, sisi positifnya tentu banyak. Sebagai bangsa baru yang menemukan dirinya, kita berusaha tetap kompak sehingga banyak konflik yang berpotensi mengancam persatuan Indonesia dapat diatasi atas nama nasionalisme Indonesia.
Ketiga, nasionalisme paling tidak dapat dipakai untuk memberikan identitas keindonesiaan, agar Indonesia itu ada di dunia. Akan tetapi, apa yang dicatat dunia dengan nasionalisme Indonesia. Mungkin tidak banyak. Waktu itu, terlepas dari konstruksi orientalisme, orang lebih mengenal Indonesia sebagai bangsa yang cukup ramah, negara terbelakang dan miskin, negara yang memiliki bahasa persatuan Indonesia, yang mengatasi lebih dari 600-an bahasa-bahasa lokal yang hingga hari ini tetap bertahan.
Sejarah membuktikan, selama 30 tahun terakhir Indonesia tercengkeram oleh satu model kekuasaan yang otoritarian, yang biasa disebut rezim Orde Baru. Sebagai akibatnya, banyak masalah ketidaksukaan dan ketidakpuasan bergolak di bawah permukaan. Yang paling menonjol tentulah matinya demokrasi, menjamurkan KKN, tidak adanya hukum yang berkeadilan, dan sebagainya.
Akibat kondisi tersebut. potensi keretakan berubah menjadi bom waktu. Banyak orang mencoba memobilisasi agama, atau etnisitas, atau bahkan mengusung wacana dunia seperti demokrasi dan keadilan universal untuk melakukan konsolidasi resistensi. Dengan tergesa-gesa dan ceroboh, rezim menyelesaikan resistensi itu dengan kekerasan terbuka atau tersembunyi. Kita tahu, pada waktu itu aparatus militer sungguh berkuasa dan menakutkan. Apakah militer melakukan itu dengan memegang semangat nasionalisme Indonesia, saya sungguh tidak percaya. Namun, strategi yang paling jitu untuk menangkal resistensi itu adalah Orde Baru memanfaatkan nasionalisme untuk mengontrol dan menekan agar kekecewaan-kekecewaan yang terjadi di lokal-lokal dapat dipatahkan. nasionalisme Indonesia dikedepankan untuk menahan agar nasionalisme etnis, atau nasionalisme agama, atau nasionalisme geografis tidak berkembang menjadi kekuatan yang potensial. Dalam praktiknya, untuk sebagian besar kasus, nasionalisme Indonesia tidak pernah terbukti mampu menjaga rasa persatuan dan identitas kebersamaan Indonesia. Konflik atas nama agama, etnisitas, atau masalah-masalah geografis dan geopolitik bermunculan dan menjadi penyebab-penyebab konflik. Masalah Aceh yang tidak pernah selesai, konflik di Kalimantan, Maluku, Papua, bahkan bentrokan-bentrokan antarkampung di Sulawesi dan Jawa, adalah catatan hitam bagi perjalanan nasionalisme Indonesia.
Masalahnya, identitas nasionalis imajinatif itu terbukti tidak pernah membanggakan. Di mata internasional, mungkin bagi bangsa Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, sejumlah negara di Timur Tengah, dan beberapa wilayah di Eropa atau Amerika, bangsa Indonesia dikenal sebagai pemasok tenaga kerja kasar, atau TKI, atau TKW, alias pembantu rumah tangga. Tidak ada prestasi dari nasion keindonesiaan yang dapat dibanggakan.
Zaman berganti. Rezim dan karakter Orde Baru yang mengusung nasionalisme sebagai perekat kebersatuan Indonesia, dan sekaligus sebagai identitas kebangsaan berlalu. Zaman reformasi datang dan dikenal sebagai zaman demokratisasi, keterbukaan, orang bebas berekspresi dan berkarya, bebas menikmati hidup seluas-luasnya. nasionalisme keindonesiaan seharusnya memang tidak perlu dihidup-hidupkan kembali.
Proses menjadi orang Indonesia, tanpa diperjuangkan pun sesungguhnya secara otomatis tetap dapat dipertahankan mengingat secara historis kita dibesarkan di Indonesia. Ada ingatan kolektif, pengalaman bersama, yang selalu diterima dari waktu-waktu sehingga keindonesiaan seseorang secara otomatis sebetulnya tidak mudah hilang begitu saja.
Artinya, tidak juga ada alasan untuk menyalahkan seseorang yang, katanya, saat ini cara dan gaya hidupnya tidak seperti orang Indonesia. Katakanlah, seperti tuduhan cara dan gaya hidup yang kebarat-baratan. Persoalannya adalah cara dan gaya hidup yang khas Indonesia itu seperti apa. Apakah dengan makan di McDonald dan berbicara bercampur bahasa Inggris, lantas dipersalahkan tidak mencintai keindonesiaan.
Cara hidup paling artifisial itu sungguh tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap warga Indonesia diberi kesempatan sebesar-besarnya untuk bekerja, berkarya, dan berprestasi. Dalam hal ini peran negara sangat dibutuhkan dalam membuat suatu kondisi agar setiap warga mendapat kesempatan yang sama untuk bekerja, berkarya, dan berprestasi. Itulah sebabnya, peran pemerintah jadinya sangat penting. Pemerintah yang baik tentu akan memberikan peluang itu sebesar-besarnya.
Saya, secara pribadi, termasuk yang mendukung kemungkinan perkembangan masyarakat Indonesia menjadi warga dunia. Tidak perlu khawatir bahwa nasion keindonesiaan itu hilang. Ada atau tidak adanya bukan sesuatu yang penting. Sejauh jika hal tersebut tidak berhubungan dengan melemahkan kemampuan individual orang atau masyarakat Indonesia dalam mengembangkan dirinya menjadi manusia yang dapat diandalkan. Otomatis jika semakin banyak kemampuan individual orang Indonesia dapat diandalkan, suatu ketika nasionalisme Indonesia akan hadir dengan sendirinya.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...