Korporatokrasi dengan Spirit ‘Kapitalisme


Pada era globalisasi seperti sekarang ini, kita tidak begitu sulit menyimpulkan bahwa arus kehidupan bergerak satu arah, kecenderungan sosial secara jelas merefleksikan wajah masyarakat yang terus dilapisi dengan mengejar cita-cita kemapanan ekonomi. Hampir setiap jengkal arena kehidupan kita diperhadapkan pada pilihan yang sangat seragam. Dinamika dan interaksi manusia kini tengah terjebak dalam kurungan industrial dan materialisme, sehingga cukup mudah untuk memahami bahwa ternyata tatanan dunia terseret ke suatu muara pandangan dunia materialisme yang disebut  dengan kapitalisme. Seiring dengan berkembangnya zaman, kapitalisme secara terus-menenerus mendewasakan diri dan berhasil mentransformasikan model dan cara kerjanya yang baru yang disebut dengan kapitalisme lanjut. Terminologi yang diperkenalkan oleh mazhab Frankfurt ini mengacu pada dinamika kapitalisme yang telah bergeser tidak hanya pada konsentrasi produksi barang dan jasa tapi juga pada refroduksi hasrat dan citra.
Dekonstruksi dan pembongkaran kapitalisme secara konsep wajib dilakukan mengingat efek buruk yang ditimbulkan oleh kapitalisme terjadi secara tak kasat mata. Lewat konsep surplus value misalnya, para pemilik modal melakukan pencurian seara diam-diam dan sistematis terhadap tenaga kerja. Selain itu, gejala overproduksidalam kapitalisme ternyata mendorong munculnya pembesaran wilayah pemasaran untuk terus menjual dan mengakumulasi modal sebanyak-banyaknya yang dilakukan dengan berbagai cara. Jadi sangat wajar ketika sepakterjang korporasi atau MNC dibanyak Negara sangat memonopoli dan menghancurkan industri kecil-menengah. Berdasarkan data yang ada, kekayaan 400 MNC ternyata lebih besar dibanding pendapatan 143 negara didunia. Dilain pihak, kapitalisme menemukan ruang baru dalam melakukan penghisapan, yakni penggunaan institusi Negara atau pemerintah sebagai payung pelindung arus modal dan barang internasional serta menguatnya peran lembaga keuangan global seperti IMF, World Bank, WTO, dan isnstitusi sejenis yang sukses menjerat Negara-negara berkembang ke dalam utang dan pinjaman luar negeri. Fenomena baru ini kemudian dikenal dengan sebutan korporatokrasi atau perselingkuhan antara pemodal dan atau korporasi, perbankan internasional, dan pemerintah dalam mengakumulasi modal sebanyak-banyaknya dengan neoliberalisme sebagai landasan geraknya.
Istilah korporatokrasi di gunakan oleh John Perkins dalam pengakuan di bukunya yang berjudul Confessions of an Economic Hitman (2004) untuk menggambarkan betapa dalam rangka membangun imperium global, maka berbagai korporasi besar, bank, dan pemerintahan bergabung menyatukan kekuatan finansial dan politiknya untuk memaksa masyarakat dunia untuk mengikuti kehendak mereka. Sedangkan Amien Rais melukiskan korporatoktrasi dalam bukunya yang berjudul Agenda Mendesak Bangsa; Selamatkan Indonesia sebagai sistem atau mesin kekuasaan yang bertujuan untuk mengontrol ekonomi dan politik global yang memiliki 7 unsur, yaitu: korporasi-korporasi besar, kekuatan politik pemerintahan tertentu, terutama Amerika dan kaki tangannya, perbankan internasional, kekuatan militer, media massa, kaum intelektual yang dikooptasi, dan elite nasional Negara-negara berkembang yang bermental inlander, komprador, dan pelayan.
Kuasa korporasi yang sangat besar di Indonesia di awali pada saat rezim Soeharto dimana disahkannya UU No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, UU No. 5 tahun 1967 Tentang Kehutanan, UU No. 11 tahun 1967 tentang Pertambangan, Kontrak Karya Pertambangan Generasi I dan II, yang pada gilirannya menghantar Indonesia memasuki fase Jual MurahJual Cepat, dan Jual Habis kekayaan alam demi kejayaan korporasi dan rakyat Indonesia yang menjadi korbannya. Perselingkuhan antara korporasi-korporasi besar, perbankan internasional, dan pemerintah bak panggung pertunjukan yang mau tidak mau harus disaksikan oleh seluruh warga dunia khususnya di Indonesia namun masih banyak yang tidak menyadari perselingkuhan tersebut. Disitulah kehebatan kapitalisme! Bila saja Marx masih hidup, ia mungkin akan tercebngang menyaksikan kreativitas borjuis dalam mendayagunakan Negara demi kepentingannya. Panggung korporatokrasi yang ini nantinya akan melahirkan industri-industri yang mengkapitalisasi segala dimensi kehidupan, mulai dari kapitalisasi pendidikan, kapitalisasi kesehatan, kapitalisasi hukum, praktek agrobisnis berupaya melanggengkan kapitalisme, dehumanisasi, pengikisan nilai-nilai luhur kearifan lokal, dan sampai pada dimensi yang paling vital yakni kapitalisasi agama.

2 komentar:

Nabil Balwell mengatakan...

Nulis nya gak akai paragraf hjadi bingung baca nya

Nabil Balwell mengatakan...

Nulis nya gak akai paragraf hjadi bingung baca nya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...